Berdasarkan informasi terkini hingga awal 2026, pendidikan di dunia Barat dan negara-negara maju seperti AS, Eropa, dan negara-negara OECD sedang mengalami transformasi cepat, didorong oleh teknologi AI, perubahan kebijakan, dan kebutuhan adaptasi pasca-pandemi. Tren ini mencakup pendidikan dasar hingga tinggi, dengan fokus pada inovasi, ekuitas, dan persiapan tenaga kerja. Berikut adalah tren utama yang sedang populer dan dibahas secara luas:
1. Integrasi AI dalam Pembelajaran
AI semakin menjadi pusat, dengan penggunaan AI agents yang lebih canggih daripada chatbot biasa untuk personalisasi pembelajaran, seperti menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa individu atau membantu bisnis mengidentifikasi kekurangan keterampilan karyawan. Di pendidikan tinggi, AI digunakan untuk efisiensi operasional, seperti otomatisasi tugas dan pengambilan keputusan, sambil menekankan literasi AI untuk siswa dan guru, termasuk pemahaman etika dan risiko. Tren ini juga muncul di bisnis education online, di mana AI membantu penelitian dan pemilihan program.
2. Upskilling dan Reskilling untuk Dunia Kerja
Dengan perubahan pekerjaan akibat otomatisasi, fokus pada pembelajaran seumur hidup untuk keterampilan baru seperti AI, cybersecurity, dan robotika, serta keterampilan lunak seperti kepemimpinan dan empati yang tak bisa digantikan mesin. Di AS, ini termasuk program sertifikat pendek dan stackable credentials yang modular, dengan penekanan pada ROI (return on investment) bagi pelajar dewasa. Pembelajaran sebagai keterampilan itu sendiri juga tren, dengan metode seperti micro-learning untuk adaptasi cepat.
3. Pembelajaran Personal dan Berbasis Pengalaman
Pembelajaran semakin personal, dengan penggunaan VR, AR, gamification, dan dunia virtual untuk simulasi hands-on, seperti lab virtual dengan umpan balik real-time. Di pendidikan tinggi, ini termasuk pendekatan berbasis data untuk analisis operasional dan budaya data-centric. Personalisasi juga menjadi pembeda di program online, dengan jalur belajar yang disesuaikan berdasarkan latar belakang siswa.
4. Penanganan Krisis Literasi dan Ekuitas
Di sekolah dasar-menengah, ada krisis literasi di kalangan siswa menengah (middle school), dengan hanya 30% siswa kelas 8 yang mahir membaca, dan gap akses ke mata pelajaran seperti Aljabar. Tren termasuk dukungan sistemik seperti screening universal dan tutoring untuk siswa minoritas. Selain itu, isu seperti dampak panas ekstrem pada pembelajaran (terutama di sekolah miskin) dan gap gender (laki-laki unggul di matematika, perempuan di membaca) menjadi prioritas.
5. Perubahan Kebijakan dan Regulasi
Di AS, di bawah administrasi baru (seperti era Trump), ada pemotongan dana federal, pembatasan pinjaman siswa, dan penegakan ketat terhadap DEI (Diversity, Equity, Inclusion), termasuk investigasi universitas atas kebijakan transgender atau protes kampus. Tren lain termasuk larangan ponsel di sekolah untuk meningkatkan fokus (sudah di 32 negara bagian AS), serta pembelajaran musim panas yang didanai untuk pemulihan pasca-pandemi. Di pendidikan tinggi, ada pembatasan biaya riset dan perubahan regulasi seperti batas pinjaman seumur hidup.
6. Keamanan dan Literasi Teknologi
Cybersecurity menjadi tanggung jawab bersama, dengan pelatihan untuk pengguna, sementara literasi teknologi disesuaikan dengan disiplin ilmu untuk persiapan karir. Ada juga penekanan pada manajemen pengetahuan untuk AI yang aman dan pendekatan proaktif terhadap teknologi baru.
Tren ini mencerminkan pergeseran ke pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif, meski dihadapkan pada tantangan anggaran dan politik. Di Eropa, tren serupa seperti AI literacy juga muncul, meski dengan regulasi yang lebih ketat seperti GDPR.
Penulis: Apit Fathurohman, S. Pd., M. Si., Ph.D
Doktor Pendidikan Fisika Assc. Prof di Universitas Sriwijaya
Google scholar
