Di lereng Gunung Dempo yang hijau membentang, di Pagar Alam yang sejuk, ada sebuah perkebunan teh luas bernama **Kebun Teh Dempo**. Pagi itu, kabut tipis masih memeluk bukit-bukit teh seperti selimut putih lembut. Matahari baru saja mengintip dari balik punggung gunung, menyisipkan sinar emas yang perlahan menerobos kabut.
Di antara baris-baris teh yang rapi melengkung mengikuti kontur bukit, berjalanlah seorang gadis kecil bernama **Lila**, bersama kakeknya, Pak Tua yang sudah puluhan tahun merawat kebun ini. Lila baru kelas 5 SD, tapi matanya selalu penuh tanya tentang segala hal di sekitarnya.
Hari itu, seperti biasa, mereka berdua berjalan menaiki bukit sambil memetik daun teh muda. Tiba-tiba Lila berhenti. Dia melihat setetes embun bergoyang di ujung daun teh.
“Kek, kenapa embun bisa nempel di daun begitu lama? Kok nggak jatuh-jatuh?” tanya Lila sambil menunjuk.
Pak Tua tersenyum, lalu mengajak Lila duduk di pinggir jalan setapak yang membelah kebun.
“Lihat baik-baik, Lil. Daun teh ini punya permukaan yang agak kasar dan ada lapisan lilin tipis di atasnya. Itu namanya **kutikula**. Air nggak bisa meresap masuk ke dalam daun karena kutikula ini bersifat hidrofobik—artinya ‘takut air’. Jadi air membentuk tetesan bulat seperti mutiara kecil. Bulat karena **gaya tegangan permukaan** air ingin meminimalkan luas permukaannya. Semakin bulat, semakin kecil luas permukaannya, semakin stabil.”
Lila mengerutkan kening. “Jadi air itu… pengen jadi sekecil mungkin?”
“Betul sekali. Itu sebabnya tetes embun di daun ini nggak langsung melebar dan jatuh. Dia bertahan dulu di situ, menunggu matahari naik lebih tinggi.”
Tak lama kemudian, sinar matahari semakin kuat. Tetes embun itu mulai bergetar kecil, lalu perlahan menggelinding ke bawah mengikuti lekuk daun.
“Kenapa sekarang dia jatuh, Kek?”
“Itu karena **gaya gravitasi** mulai menang melawan gaya tegangan permukaan dan **gaya adhesi** (gaya tarik-menarik antara air dan permukaan daun). Saat massa tetesan bertambah karena uap air di udara ikut mengembun, beratnya jadi lebih besar dari kemampuan daun menahannya. Akhirnya… plop! Jatuh ke tanah.”
Lila tertawa kecil. “Jadi embun itu main tarik-menarik sama daun, terus kalah sama berat badannya sendiri ya?”
“Persis. Fisika itu nggak cuma di buku pelajaran, Lil. Dia ada di setiap tetes embun yang kamu lihat, di setiap angin yang menggoyang daun teh, di setiap kabut yang naik dari lembah.”
Mereka melanjutkan jalan. Di bagian bukit yang lebih curam, Lila hampir tergelincir karena tanah agak licin.
“Eh, hati-hati! Itu karena **koefisien gesek** tanah basah jadi kecil. Air bertindak sebagai pelumas alami,” kata Pak Tua sambil menahan tangan Lila.
Lila mengangguk-angguk. “Jadi kalau pagi-pagi tanah basah, kita harus pelan-pelan naiknya supaya nggak tergelincir karena gesekannya kecil?”
“Benar sekali. Makanya petani teh di sini biasa pakai sepatu boot karet yang beralur dalam—supaya **gaya gesek statis** lebih besar.”
Saat mereka sampai di puncak bukit kecil, pemandangan terbuka lebar. Hamparan teh hijau bergelombang seperti lautan zamrud, kabut masih menari-nari di lembah bawah, dan sinar matahari pagi menyelinap membentuk sinar-sinar keemasan (crepuscular rays).
Lila membuka kedua tangan lebar-lebar. “Kek… rasanya fisika itu hidup di sini ya. Semua yang kita lihat, semua yang kita rasakan… semuanya ada cerita fisikanya.”
Pak Tua mengusap kepala cucunya. “Iya, Nak. Fisika bukan barang asing yang jauh di laboratorium. Fisika itu dekat sekali. Dia ada di hembusan angin yang membawa aroma teh, di lengkung bukit yang mengikuti hukum gravitasi, di kabut yang terbentuk karena **kondensasi**, di daun yang melindungi diri dari panas matahari lewat **transpirasi**… semuanya nyata, semuanya indah.”
Lila tersenyum lebar. “Mulai sekarang, setiap aku lihat kebun teh ini, aku nggak cuma lihat cantiknya saja. Aku juga dengar cerita fisikanya.”
Matahari sudah naik lebih tinggi. Kabut perlahan menghilang. Angin pagi membawa aroma teh segar ke hidung mereka berdua.
Dan di antara baris-baris teh yang hijau membentang itu, seorang gadis kecil mulai jatuh cinta… bukan hanya pada keindahan alam, tapi juga pada keajaiban fisika yang selama ini diam-diam menemani setiap langkahnya.
