Membawa “Masa Depan” ke Ruang Kelas: Cerita Seru Siswa SD di Palembang Belajar AI dan Pertanian Presisi

Siapa bilang belajar soal Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi canggih cuma milik mahasiswa atau orang kantoran? Di SD Negeri 27 Palembang, suasana belajar mendadak jadi jauh lebih futuristik. Bayangkan saja, anak-anak sekolah dasar di sana sudah mulai akrab dengan istilah pertanian presisi dan sensor otomatis.
Semua ini bermula dari inisiatif Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sriwijaya yang ingin mendobrak pandangan lama bahwa bertani itu harus selalu kotor dan melelahkan.

 

Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata

Ketua tim, Apit Fathurohman, Ph.D., bersama rekan-rekannya dari berbagai disiplin ilmu (Fisika, Teknik Pertanian, dan PGSD), membawa misi penting: mengenalkan kemandirian pangan lewat teknologi sejak dini.
Sejak pertengahan Oktober 2025, suasana di sekolah tersebut mulai berubah5. Para guru tidak hanya duduk mendengarkan presentasi, tapi juga dilatih merakit alat peraga pertanian modern6666. Mereka belajar bagaimana panel surya bisa menghidupkan sistem irigasi tetes dan bagaimana memantau tanaman secara real-time.

Puncaknya terjadi pada pertengahan November. Bukan cuma gurunya yang belajar, tapi para siswa juga terlibat langsung:
10-12 November: Tim Unsri mendampingi guru membuat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang adaptif dan menyerahkan aset teknologi agar bisa digunakan terus di sekolah8.
13 November: Guru dan siswa bersama-sama praktik membuat media tanam yang benar.

Petualangan Seru di Green House
Momen yang paling mencuri perhatian adalah saat hari Jumat, 14 November 2025. Puluhan siswa yang masih mengenakan seragam Pramuka lengkap melakukan field trip ke Green House Fakultas Pertanian Unsri.
Bukannya takut kotor, anak-anak ini justru sangat antusias. Mereka mengerumuni instalasi hidroponik dan mencecar para dosen serta kakak-kakak mahasiswa dengan pertanyaan kritis.
“Gimana cara sensor ini tahu kalau tanahnya kering?” atau “Gimana airnya bisa mengalir sendiri?” menjadi pertanyaan yang sering terdengar saat mereka melihat langsung sensor kelembapan tanah bekerja.

Dampak Besar untuk Sekolah
Kepala Sekolah SD Negeri 27 Palembang, Febriansyah Farma, merasa sangat terbantu dengan kolaborasi ini15. Baginya, ini bukan sekadar bantuan alat, tapi peningkatan kualitas mengajar bagi 15 guru dan wawasan baru bagi ratusan siswanya.
Setelah rangkaian kegiatan yang padat, tim PKM Unsri melakukan evaluasi akhir pada 18 November 2025 untuk memastikan semua alat yang dihibahkan tetap terawat dan program ini terus berjalan meskipun tim kampus sudah kembali ke universitas.
Melalui langkah kecil di bangku SD ini, kita bisa melihat optimisme bahwa swasembada pangan di masa depan ada di tangan generasi yang sudah melek teknologi sejak dini.

Menarik, bukan? Inovasi seperti ini membuktikan bahwa pendidikan dasar bisa tampil sangat modern. Apakah sekolah Anda tertarik mencoba teknologi serupa? Yuk, diskusikan di kolom komentar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *